Beranda | Artikel
Realita Kebangkitan Islam
Jumat, 10 Desember 2004

SAHABAT RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM MEMILIKI MANHAJ ILMIYAH 2/4

Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly

2. Hadits Abdullah bin Amr bin Al-Ash

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Akan datang kepada umatku apa yang telah datang kepada Bani Israil sama persis dan tidak berbeda sampai seandainya ada pada mereka orang yang menikahi ibunya terang-terangan maka akan ada pada umatku orang yang melakukan seperti itu, sesungguhnya Bani Israil telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan dan umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan semuanya di neraka kecuali satu. Ada yang bertanya : siapakah yang satu itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab : (yang berada diatas) apa yang aku dan sahabatku berada padanya sekarang” [Hasan karena syahid-syahidnya sebagaimana telah saya jelaskan dalam Darul Irtyaab An Hadits Maa Ana Alaihi Wal Ashhab, terbitan Dar Arrayah Riyadh]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini menjelaskan bahwa Thaifah Al-Manshurah adalah orang yang memiliki sifat-sifat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Kesimpulannya, para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang mencontoh dan meneladani Rasulllah sehinnga dipuji oleh Allah dalam Al-Qur’an dan dipuji oleh orang yang diikuti oleh mereka yang petunjuknya adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Sahabat merupakan orang yang paling pantas menjadi kelompok tersebut lalu setiap orang yang mengikuti mereka termasuk kelompok yang selamat yang masuk ke syurga dengan keutamaan dan rahmat Allah.

Dengan demikian selaras makna hadits Irbaad bin Saariyah Radhiyallahu ‘anhu dan hadits Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu ‘anhu dalam menetapkan manhaj sahabat dalam istidlal dan istimbath, hal itu terjjelaskan dengan :

Orang yang meneliti kedua hadits tersebut niscaya mendapatkan kedua hadits tersebut menjelaskan satu masalah dan solusi yang sama yaitu jalan keselamatan dan kehidupan ketika umat Islam menjadi berkelompok-kelompok dan faham yang benar adalah pemahaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, penjelasannya sebagai berikut :

1. Tidakkah kamu lihat bahwa hadits Irbaadh bin Saariyah Radhiyallahu ‘anhu menegaskan bahwa :

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا

Karena siapa yang masih hidup dari kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak.

Maka beritahulah dengan ilmu kepada saya wahai saudara se-Islam bukanlah perselisihan yang besar yang diterangkan dalam hadits Irbaadh bin Syaariyah Radhiyallahu ‘anhu adalah kemunculan berbagai kelompok (golongan) hingga mencapai lebih dari tujuh puluh kelompok (golongan) semuanya di atas kesesatan dan kebid’ahan kecuali satu yang berada di atas hujjah yang terang dan benderang yang tidaklah menyimpang darinya kecuali binasa dan yang berpaling darinya kecuali tersesat, hujjah yang terang benderang ini adalah :

2. Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَ أَصْحَابِي

(apa yang aku dan sahabatku berada padanya sekarang)” yang dimaksud oleh sabdanya yang lain:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ

“(Maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin)

Karena apa yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sunnahnya yang suci dan yang ada di atasnya para sahabat beliau adalah sunnahnya yang menjadi sunnah para Khulafaur Rasyidin yang memberi petunjuk dan para ulama yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat nanti.

3. Saya bukanlah orang yang pertama dalam keterangan dan istidlal ini, karena telah mendahului saya para imam yang telah mengisyaratkannya akan tetapi itu sekedar sinar cahaya yang telah saya ambil lalu saya jabarkan dan kuatkan dengan dalil-dalil agar jalannya kaum mukminin semakin jelas.

Al-Hafidz Ibnu Hibban meriwayatkan hadits Irbaadh bin Saariyah ini dalam shahihnya (1/104) dalam bab Dzikru Washfil Firqatun Najiyah Min Bainil Firaq Allati Taftariqu Alaihi Umatul Mushthofa Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Bab yang menjelaskan sifat Firqatun Najiyah dari sekian kelompok-kelompok yang muncul dikalangan umat Musthofa Shallallahu ‘alaihi wa sallam) kemudian berkata : Dalam hadits : “Maka berpegang teguhlah dengan sunnahku” -ketika menjelaskan tentang perselisihan yang terjadi pada umatnya- terdapat penjelasan nyata bahwa setiap orang yang selalu meniti sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berpendapat sesuai dengannya dan tidak sama sekali berpaling kepada selainnya dari pemikiran-pemikiran yang ada, maka termasuk Firqatun Najiyah (kelompok yang selamat).

Semoga Allah dengan segala karuniaNya menjadikan kita termasuk dalam kelompok tersebut.

Berdasarkan nukilan-nukilan dari para imam besar ini jelaslah makna yang benar dan pendapat yang tepat dari hadits ini adalah (berisi ketetapan) bahwa jalan keluar (solusi) dari hawa nafsu yang menyesatkan dan jalan keselamatan dari penyakit syubhat dan syahwat -yang menarik pengikutnya dari kebenaran- adalah pemahaman para sahabat terhadap Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena mereka telah mengambilnya secara sempurna, telah berlomba-lomba mendapatkannya dan telah melaksanakannya sepanjang usia mereka, maka tidak ada kesempatan bagi seorangpun dari umat ini yang dapat menandingi mereka, karena mereka berada tegak di atas petunjuk dan kesempurnaan ilmu dan memandang dengan pandangan yang cemerlang, maka orang yang berbahagia adalah orang yang mengikuti jalan mereka yang lurus dan yang celaka adalah orang yang berpaling ke kanan dan ke kiri dan meniti jalan kesesatan, jatuh lunglai di medan kebinasaan dan kesesatan. Menyangka fatamorgana (pantulan cahaya mirip air) sebagai air hingga jika dia datangi, tidak mendapatkan air sedikitpun dan mendapatkan syaithan disampingnya yang kemudian menyambarnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita dari kehinaan tersebut.

Katakanlah dengan nama Rabbmu : Amal kebaikan apa yang belum mereka kerjakan dan sifat mulia mana yang belum mereka miliki ?

Demi dzat yang jiwaku ada di tanganNya, sungguh mereka telah mengambil kebenaran dari sumbernya yang murni lagi jernih, lalu mereka tetapkan kaidah-kaidah Islam seluruhnya sehingga tidak memberi kesempatan bagi yang lain untuk memberikan konsep pemikiran, kemudian mereka sampaikan warisan yang mereka dapatkan dari cahaya kenabian secara suci lagi murni kepada para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik. Dan sanad periwayatan mereka adalah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Jibril dari Rabbul Izzah sanad yang tertiggi.

Sungguh mereka sangat mengangungkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jiwa mereka sangat takut mengedepankan hawa nafsu dari Sunnah atau mencampurinya dengan pemikiran yang beragam, bagaimana tidak, sedangkan mereka bermusuhan dan berloyalitas karenanya .?

Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil mereka untuk melaksanakan satu perkara mereka segera melaksanakannya baik berkelompok atau perorangan dan menyerahkan diri mereka untuk itu tanpa bertanya keterangan dari apa yang beliau perintahkan. Oleh karena itu, merekalah orang yang paling berhak atas sunnah Rasulullah secara pemahaman, amalan (aplikasi), istidlal (mengambil dalil) dan istimbath (mengeluarkan hukum) berdasarkan manhaj ilmiyah yang seksama yang menjaga mereka dari penyimpangan. Oleh karena itu nash-nash dari Al-Kitab dan As-Sunnah menjelaskan sifat jalan mereka dengan pilar-pilar manhaj ilmiyah dan konsekwensinya.

a. Allah mensifatinya dengan As-Sabiil yaitu jalan yang jelas arahnya sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” [An-Nisa’/4 : 115]

b. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mensifatinya dengan As-Sunnah yang berarti jalan yang diikuti dan dilalui, sebagaimana dalam hadits Irbaadh bin Saariyah terdahulu.

c. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa Firqatun Najiyah dan Thaifah Al-Manshurah hanyalah mereka yang berpegang teguh kepada apa yang beliau dan para sahabatnya ada di atasnya. Seandainya hal itu bukan manhaj yang jelas arahnya maka bagaimana mungkin berpegang teguh kepadanya ?! karena jika demikian dia akan bercampur dengan yang lainnya yang tidak mungkin dapat dibedakan. Renungkanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk” [Al-Baqarah/2 : 137]

dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Sesungguhnya ada setelah kalian hari-hari kesabaran, orang yang berpegang teguh kepada apa yang kalian ada atasnya pada waktu itu mendapat pahala lima puluh orang dari kalian” [Hasan dengan syahid-syahidnya : Sebagaimana telah saya jelaskan dalam Darul Irtiyaab An-Hadits Ma Anaa Alaihi wal Ashhaab hal.15]

Niscaya kamu dapatkan hal itu tidak terjadi kecuali karena manhaj ilmiyah yang jelas, malamnya seperti siangnya yang tidaklah menyimpang darinya kecuali binasa dan tidak mengambilnya kecuali tersesat serta tidak meragukannya kecuali orang-orang yang tidak beriman.

Orang yang tidak menghargai Salaf dan tidak mengerti kedudukan mereka menuduh bahwa Salaf itu Nashiyun yang hanya bersandar kepada lahiriyah (dhohir) nash-nash dan tidak menggunakan akalnya sedikitpun dalam hal itu, dan dengan itu kemudian mereka menyerahkan diri kepada nash-nash teresbut tanpa faham konteks kandungannya dan menyerahkan maknanya kepada Allah tanpa ilmu serta mereka sibuk dengan apa yang dianggap mereka lebih bermanfaat dan pantas dari ketaatan dan ibadah.

Usaha memisahkan Salaf dari manhaj ilmiyah -yang seharusnya digunakan dalam memahami nash-nash Al-Kitab dan Sunnah dan dijadikan rujukan ketika terjadi perselisihan dan perpecahan- tegak diatas dua prasangka yang tidak ada dasar pijakannya walaupun binukil dan disepakati oleh ahli kalam :

[Disalin dari Kitab Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Studi Kritis Solusi Problematika Umat) oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaly, terbitan Pustaka Imam Bukhari, penerjemah Kholid Syamhudi]


Artikel asli: https://almanhaj.or.id/1220-rasulullah-menjelaskan-thaifah-al-manshurah-memiliki-sifat-sifat-beliau-dan-para-sahabatnya.html